Blog ini berisi sirah atau sejarah atau kisah-kisah islam yang mengispirasi, renungang, amalan, serta kesehatan

Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Friday, 30 March 2018

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.
Rumeli Hisari Fortress, Bosphorus, Istanbul, Turkey
Rumeli Hisari Fortress, Bosphorus, Istanbul, Turkey


Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Menjadi Penguasa Utsmani

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.

Menaklukkan Bizantium

Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Tanduk Emas atau Golden Horn
Tanduk Emas atau Golden Horn
Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul
Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari

Wafatnya Sang Penakluk
 

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…

Source : Muhammad al-Fatih, Penakluk Konstantinopel

Tuesday, 20 March 2018

Alkisah, ada seorang pemuda yang bekerja sebagai penggembala domba. Jumlah domba yang dia gembalai berjumlah ratusan ekor. Bertahun-tahun dia bekerja tanpa pernah mengeluh meski hasil jerih payahnya tak seberapa.

Suatu ketika, datang seorang musafir yang sangat kehausan setelah menempuh perjalanan jauh. Melihat ada pengembala domba tersebut, gembiralah hati musafir itu. Sang musafir meminta minum kepada si pemuda penggembala tersebut. Namun, pemuda itu menjawab bahwa dirinya tak punya air minum untuk diberikan kepada si musafir.

Musafir tersebut kemudian memohon memelas agar diizinkan mengambil air susu dari seekor domba yang digembalakan si pemuda itu. Pemuda tersebut menolak dengan halus. “Ayolah, saudaraku. Tolonglah aku. Aku sangat haus. Izinkan aku untuk memerah dombamu sekadar beberapa teguk untuk menghilangkan dahagaku,” ujar sang musafir. Pemuda itu menjawab, “Domba-domba ini bukan kepunyaanku, aku tak berani mengizinkan engkau sebelum majikanku mengizinkannya.”

Pemuda mengatakan, “Kalau kau mau, tunggulah di sini sebentar. Kucarikan telaga dan kuambilkan air untukmu, saudaraku.” Kemudian, pergilah pemuda tersebut mencarikan air untuk sang musafir. Setelah dapat, diberikannya air itu kepada si musafir. “Alhamdulillah, segar sekali rasanya,” kata sang musafir. “Terima kasih wahai anak muda,” lanjut musafir itu.

Kemudian, mereka sejenak beristirahat sambil berbagi kisah. Siang semakin terik. “Mengapa kau tadi tidak ikut minum,” tanya musafir kepada pemuda tadi. “Maaf, saya sedang berpuasa,” jawab si pemuda. Musafir itu tercengang mendengar pengakuan pemuda tersebut. “Matahari semakin tinggi, sedangkan engkau berpuasa?” tanya musafir itu penuh tanya. Pemuda itu menjawab, “Aku berharap kelak mudah-mudahan Allah menaungi diriku pada saat hari kiamat nanti. Karena itu, aku berpuasa.”
Bolehkah Aku Membeli Seekor Saja Dombamu

Rasa kagum dan penasaran membuat si musafir ingin mengetes keimanan sang pemuda penggembala tersebut. Lalu, musafir itu berkata, “Hai anak muda, bolehkah aku membeli seekor saja dombamu. Aku lapar, tolonglah aku.”

“Maaf tuan, aku tidak berani sebelum mendapat izin dari majikanku,” kata pemuda itu.

“Ayolah anak muda. Domba yang kau gembalakan sangat banyak. Tentulah tuanmu tidak akan mengetahui meski kau jual seekor saja. Perutku sangat lapar, tolonglah aku,” rayu musafir tersebut.

“Aku sungguh ingin menolongmu. Kalau saja aku memiliki makanan, tentu akan kuberikan untukmu, tuan. Tapi, tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tak mungkin aku lakukan tuan,” ucap pemuda tersebut.

“Tidak akan ada yang tahu hai anak muda. Kuberikan seribu dirham untukmu untuk seekor domba saja. Ayolah. Tidakkah kau kasihan kepadaku?” kata musafir itu yakin bahwa pemuda tersebut akan goyah dengan suap seribu dirham.

Musafir itu terus memaksa si pemuda untuk menjual seekor dombanya. Bahkan, musafir itu tambah gusar dan marah.
Akhirnya, pemuda itu berkata, “Majikanku bisa saja tidak tahu jikalau aku menjual seekor dombanya. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Dan mungkin saja, majikanku tidak akan menanyakan domba-dombanya. Dia tidak akan rugi meski aku menjual seekor di antara domba kepunyaanya. Tapi, kalau aku berbuat begitu, lalu di mana Allah? Di mana Allah? Di mana Allah? Sungguh, aku tak mau di dalam dagingku tumbuh duri neraka karena uang yang tidak halal bagiku.”

Pemuda itu menangis karena takut tergoda berbuat sesuatu yang dimurkai Allah. Dia menangis karena kecintaanya kepada Allah.

Musafir tersebut tertegun. “Allahu akbar!!” musafir itu ikut menangis.

“Katakan padaku wahai anak muda, di mana majikanmu tinggal. Aku ingin membeli seekor dombanya,” kata musafir tersebut.

Setelah mendapat jawaban tentang tempat tinggal majikan pemuda tadi, musafir itu memberikan uang seribu dirham tadi kepada si pemuda. “Terimalah uang ini untukmu, anakku. Ini uang halal. Kau pantas mendapatkan lebih daripada ini. Hatimu begitu mulia.” Sang musafir yang tak lain adalah Khalifah Umar bin Khattab bergegas menuju ke rumah majikan sang pemuda tadi. Lalu, ditebuslah pemuda itu dengan memerdekakannya dari status hamba sahaya.

Kisah lainnya : Abdul-Malik : Wahai Ayah, Siapa yang Menjamin Engkau Akan Masih Hidup Sampai Waktu Zuhur?

Dalam lanjutan perjalanannya, Umar masih takjub dengan kisah yang baru dia alami.

Di mana Allah? Inilah kalimat yang menggetarkan hati Umar. Rasa takut kepada Allah tidak menggoyahkan iman seorang pemuda tadi meski dirayu dengan materi. Duniawi tidak mampu menyilaukan hati pemuda itu karena keteguhan iman yang hakiki.

Sumber :  Bolehkah Aku Membeli Seekor Saja Dombamu

Sunday, 31 December 2017

Kenangan indah adalah umur kedua manusia setelah dirinya meninggal dunia. Pepatah melayu mengatakan, "Gajah mati meninggalkan gadingnya. Harimau mati meninggalkan taringnya. Dan manusia mati meninggalkan perbuatan baiknya."

Tidak diragukan lagi, kepergian Umar bin Abdul Aziz meninggalkan kenangan-kenangan manis dan indah dalam hati sanubari ummat Islam, bahkan sampai hari. Kepergian Umar bin Abdul Aziz meninggalkan kerinduan-kerinduan yang mendalam di lubuk jiwa ummat Islam, bahkan hingga hari ini. Terbukti bahwa ummat Islam hari itu hingga hari ini masih terus menerus merindukan muncul-nya sosok seorang pemimpin ummat sepertinya. Memerintah dengan adil dan bijaksana. Kokoh dalam menegakkan kebenaran. Tidak takut pada celaan orang-orang yang syirik. Tidak mudah layu menghadapi gelombang fitnah jabatan. Mengedepankan kepentingan ummat diatas kepentingan pribadi dan keluarga. Sehingga kesejahteraan dan keberkahan hidup akan dirasakan oleh semuanya.

Bagi siapapun orang yang merindukan kesejahteraan, maka sesungguhnya ia merindukan tampilnya seorang pemimpin besar seperti Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz di Mata Istri

Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, para ulama' besar dating berta'ziyah ke rumahnya. Disana ada Fathimah binti Abdul Malik.
"Kedatangan kami kesini untuk mengucapkan belasungkawa padamu atas kematian Umar. Sungguh, kesedihan ini merata dirasakan seluruh ummat. Ceritakan kepada kami –semoga Allah merahmatimu- tentang keseharian Umar. Bagaimana kesehariannya di rumah? Karena yang paling mengetahui tentang seseorang adalah keluarganya."
"Demi Allah, sungguh Umar bukanlah orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada kalian. Tapi demi Allah, aku tak pernah melihat orang yang sangat takut pada Allah melebihi Umar. Demi Allah, tempat yang menjadi akhir kesenangan seseorang adalah keluarganya. Saat itu aku dan dia hanya terpisah selimut. Tiba-tiba terdetik dalam hatinya sesuatu dari perintah Allah. Seketika ia bangkit layaknya bangkitnya seekor burung jika jatuh kedalam air. Iapun terlihat sedih. Kemudian menangis dengan keras. Sampai-sampai aku katakan, "Demi Allah, seperti mau keluar nyawanya dari jasad.". Lalu ia menyingkap selimut yang menaungi kami. Karena saying padanya aku berkata, "Andaikata jarak kita dengan kepemimpinan ini sejauh jarah timur dan barat. Demi Allah, aku tak pernah melihat kesenangan sejak kami masuk kedalam (amanah kepemimpinan ummat ini)."
Kabar dari Nabi Khidhir

Saat itu Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur di Madinah. Rayyah bin Ubaidah melihatnya sedang berjalan dengan seorang kakek yang menyandarkan dirinya pada tangan Umar.
"Orang tua itu sungguh tidak sopan, bersandar pada tangan seorang gubernur." gumam Ray-yah pelan.
Aku berjalan mengikuti Umar yang berjalan memasuki masjid kemudian melaksanakan shalat. Selepas shalat, Rayyah mendekatinya dan berkata, "Semoga Allah selalu memperbaiki urusanmu, Amir? Sebenarnya, siapa kakek-kakek yang bersndar di tanganmu tadi?"
"Kamu melihatnya, Rayyah?"
"Ya."
"Dia itu saudaraku, Khidhir 'alaihimsalam, datang menemuiku untuk mengabarkan padaku bahwa nanti aku akan memegang urusan ummat dan aku akan adil didalamnya."

Umar dalam kenangan Maslamah bin Abdul Malik

Ketika Maslamah bin Abdul Malik melihat jasad Umar dibentangkan, ia berkata, "Semoga Allah merahmatimu. Sungguh, engkau telah lembutkan hati-hati yang keras, dan engkau selalu mengingatkan kami kepada orang-orang shalih."
Umar dalam Pandangan Sufyan ats-Tsauri

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Khulafaur Rasyidin itu ada lima; Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Umar bin Abdul Aziz radhiyallohu 'anhum."
Umar dalam kenangan Makhul

Kata Makhul, "Aku tak pernah melihat orang yang paling zuhud dan takut kepada Allah melebihi Umar bin Abdul Aziz."
Umar dalam Kenangan Yazid bin Husyab

"Aku tak pernah melihat orang paling takut (pada Allah) melebihi Hasan Bashri dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka merasa sepertinya api neraka diciptakan hanya untuk mereka berdua saja."
Umar dalam Pandangan Para Pendeta Nashrani

Setelah menyaksian pemakaman jenazah Umar bin Abdul Aziz, Imam Auza'i pergi menuju kota Qinsirin. Ditengah jalan, ia bertemu dengan salah serang pendeta Nashrani.
"Hai, aku kira kamu hadir menyaksikan jenazah orang ini (Umar bin Abdul Aziz-pen)?" kata pendeta itu menyapa Imam Auza'i.
"Ya, aku telah menghadirinya."
Tiba-tiba mata pendeta itu berkaca-kaca kemudian menangis sesenggukan. Imam Auza'i merasa heran melihatnya menangis. Iapun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis? Padahal kamu tidak seagama dengannya?"
Pendeta itu menjawab, "Sungguh, aku tidak menangisinya, namun aku menangisi padamnya cahaya yang menyinari bumi."
Umar dalam Kenangan Raja Romawi dan Para Komandan Pasukan

Umar bin Abdul Aziz pernah mengutus serombongan utusan ke raja Romawi untuk sebuah urusan kemashlahatan ummat Islam, serta kebenaran yang hendak ia sampaikan kepadanya. Ketika para utusan masuk kedalam istana, ada seorang penerjemah sudah berada disana. Raja Romawi duduk diatas singgasananya. Mahkota bertengger mewah dikepalanya. Sedang disamping kiri dan kanannya ada beberapa pengawal. Orang-orang beruntut didepannya sesuai dengan jabatan mereka. Setelah maksud kedatangan disampaikan kepadanya, ia menanggapi dengan ramah dan menjawab dengan baik. Kemudian mereka meninggalkan ruangan pertemuan hari itu.
Mesjid Umayyah

Keesokan harinya, datanglah seorang utusan raja menemui para utusan Umar bin Abdul Aziz, meminta mereka untuk hadir di tempat pertemuan kemarin. Ketika mereka memasuki ruangan, mereka melihat posisi raja berubah tak seperti kemarin. Ia turun dari singgasananya. Mahkota me-wah dilepas dari kepalanya. Raut wajah dan bahasa tubuhnya sangat berbeda dengan kemarin. Seo-lah-olah ada musibah besar yang menimpanya.

"Tahukah kalian, kenapa aku memanggil kalian kesini?" tanya raja Romawi kepada para utusan Umar bin Abdul Aziz.
"Tidak tahu." jawab mereka.
"Sesungguhnya salah seorang dutaku di Arab telah mengirimkan surat yang mengabarkan bahwa, raja Arab yang shalih telah meninggal."

Para utusan Umar itupun tak kuasa membendung air matanya ketika mendapat berita, ternyata Umar yang mengutus mereka telah meninggal.
"Untuk apa kalian menangis? Untuk agama kalian atau untuknya?" tanya Raja Romawi.
"Kami menangisi diri kami, agama kami dan juga menangisinya." jawab para utusan Umar bin Abdul Aziz.
Raja Romawi berkata, "Janganlah kalian menangisinya. Tangisilah diri kalian. Sungguh ia telah meninggalkan kebaikan. Ia khawatir meninggalkan ketaatan pada Allah, karena itulah Allah tidak mengumpulkan dalam dirinya ketakutan pada dunia dan ketakutan pada-Nya. Telah sampai kepadaku kabar tentang keshalihannya, keutamaannya dan kejujurannya. Sungguh aku menyangka, kalau ada orang yang bisa menghidupkan orang mati setelah Isa, maka orang itu adalah Umar. Berita-berita tentangnya pun telah kuketahui, dengan teran-terangan maupun tidak. Maka aku ti-dak mendapati urusan hubungannya dengan Tuhannya kecuali satu hal, yaitu dalam kesendirian ia lebih meningkatkan ketaatannya pada Tuhannya. Aku tidak kagum pada para pendeta yang mereka meninggalkan dunia untuk menyembah Tuhannya di dalam ruang ibadahnya. Namun aku lebih mengagumi Umar yang mana dunia telah jelas ia miliki namun ia tetap tidak tergiur padanya, se-hingga seperti seorang pendeta. Sungguh, orang baik itu tidak banyak seperti banyaknya orang tidak baik."
Kesaksian Seorang Penggembala Kambing

Husain al-Qishar adalah orang yang pekerjaannya menjual domba pada masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz. Suatu hari ia, saat mencari domba, ia melewati seorang penggembala. Anehnya, diantara domba-domba itu ada sekitar tiga puluh serigala yang ketika itu Husain menyang-kanya anjing gembala.
"Hai penggembala, apa maksudmu dengan membawa anjing penjaga yang banyak ini?" tanya Husain penasaran.
"Wahai anak muda, sungguh itu semua bukan anjing penjaga, tapi serigala-serigala."
"Ooohh… Subhanallah!!! Ada serigala di tengah-tengah domba, apa tidak membahaya-kannya?!"
"Wahai anak muda,selama kepala dalam keadaan baik,maka tidak ada masalah pada badan. 
Maksud ungkapan terakhir penggembala adalah, jika pemimpinnya shalih, maka rakyatnya akan damai sejahtera.
Kesaksian Penggembala Kambing II

Musan bin A'yun berkata, "Kami biasa menggembala kambing di Karaman pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Demi Allah, adalah hal yang biasa domba dan serigala berada di satu tempat. Hingga suatu malam, ada seekor serigala memangsa domba. 
Lalu aku berkata, "Aku tidak melihat kecuali pasti orang shalih telah meninggal." Dan ternyata Umar bin Abdul Aziz meninggal pada ma-lam itu.
Selamat Jalan, Amirul Mukminin...

Jum'at, 20 Rajab, tahun 101 H. Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz pergi menghadap Sang Maha Pencipta. Setelah terbaring dalam sakit selama dua puluh hari. Saat itu usianya baru genap empat puluh tahun. Masih sangat muda. Namun jasa-jasanya untuk ummat Islam sudah sangat banyak.

Air mata ummat tertumpah dalam larutan kesedihan yang mendalam. Merindukannya bisa kembali hadir di tengah-tengah jaman. Bisa kembali memimpin. Bisa kembali memenuhi dunia dengan keadilan. Bisa selamanya mendampingi perjalanan ummat.

Dua puluh sembilan bulan lebih empat hari berlalu. Terasa begitu singkat, namun dalam waktu yang sesaat itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengabdikan dirinya untuk ummat. Melayani masyarakat. Memprioritaskan rakyat. Dengan segenap keteguhan hati dan ketulusan niat.

Dua puluh sembilan bulan lebih empat hari berlalu. Menyisakan kenangan manis di hati ummat manusia, kawan maupun lawan. Sudah terlalu mendalam nama Umar bin Abdul Aziz terpatri di sanubari rakyat. Terlalu indah pula untuk sekedar dilupa dari ingatan.

Dalam dua puluh sembilan bulan lebih empat hari, wajah dunia Islam kembali berseri, setelah sekian lama menantikan percikan embun suci dari tangan pemimpin surgawi. Setiap desah nafasnya adalah ibadahnya. Setiap tetesan peluhnya adalah jihadnya. Sehingga rakyat merasakan keberkahan kepemimpinannya.

Selamat jalan Amirul Mukminin. Selamat jalan sang guru pembaharuan. Semoga Allah merahmatimu di alam sana.

Pesan Terakhir Umar untuk Ummat Islam

Di Kota Khanashiroh, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyampaikan khutbahnya. Dan ternyata khutbah itu adalah pesan terakhirnya untuk ummat Islam.

"Wahai sekalian manusia, sungguh kalian tidak diciptakan dengan sia-sia. Dan kalian tidak di-biarkan begitu saja. Kalian memiliki tempat kembali, dimana Allah akan turun kesana untuk mengadili dan membuat perhitungan dengan kalian. Sungguh benar-benar gagal dan merugi bagi orang yang keluar dari rahmat Allah, padahal rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dan juga bagi orang yang diharamkan surga atasnya, padahal luasnya surga seluas langit dan bumi.

Ketahuilah, bahwa jaminan keamanan esok hanyalah bagi orang takut pada Allah, yang men-jual sesuatu yang sesaat untuk kehidupan abadi, dan yang menjual sesuatu yang sedikit untuk men-dapatkan yang lebih banyak kelak, serta orang yang menjual rasa takutnya dengan keamanan yang dijanjikan padanya.

Tidakkah kalian melihat bahwa diri kalian tengah berada di tengah-tengah orang mati? Setiap hari kalian berta'ziah mengunjungi orang yang telah menghadap Allah. Ia telah habis ajal hidupnya. Kemudian kalian menanamnya ke dalam tanah dan meninggalkannya tanpa bantal dan tikar. Ia telah berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, melepas semua urusan, diam dalam timbunan tanah, untuk mengahadapi perhitungan. Ia harus mempertanggungjawabkan semua amalannya, miskin amal dan kaya maksiat.

Maka takutlah kalian pada Allah sebelum datangnya kematian. Demi Allah, aku tidak menga-takan ini melainkan aku merasa tidak ada orang yang dosanya lebih banyak dari dosaku. Maka aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

Tidaklah salah seorang diantara kalian yang keperluannya sampai kepadaku melainkan aku berharap sekali bisa membantunya semampuku. Dan tidak pula seseorang diantara kalian yang akan merasa lapang dengan apa yang kami miliki melainkan akan kuberikan padanya sekalipun dagingku ini. Dengan begitu, aku berharap hidupku dengannya sama.

Demi Allah, seandainya aku menghendaki kemewahan hidup, maka sungguh lisanku akan tunduk karena mengetahui sebab-sebabnya. Namun Allah telah memberikan kitab yang bicara dan sun-nah yang adil, menunjukkan kepada kita untuk menta'ati-Nya, dan melarang kita dari bermaksiat pada-Nya."

Kemudian Umar bin Abdul Aziz mengangkat ujung selendangnya, menangis sesenggukkan. Orang-orang yang hadir di sekitarnya pun ikut menangis. Sungguh, kalimat-kalimat jujur yang keluar dari lubuk hati tentu akan sampai ke hati orang yang mendengarnya pula. Dan setelah ini, Umar ti-dak lagi berkhutbah di hadapan masyarakat.

Detik-detik Menjemput Ajal

Ketika Umar bin Abdul Aziz merasa ajal akan segera tiba, ia berkata kepada orang-orang yang menunggunya, "Keluarlah kalian semua, jangan ada yang berada disini."

Orang-orang pun pada keluar. Sedang Maslamah bin Abdul Malik dan istri Umar, Fathimah binti Abdul Malik, yang juga saudara Maslamah, berdiri menunggu di depan pintu. Ketika saat-saat menegangkan itu tiba, mereka mendengar Umar bin Abdul Aziz berkata, "Selamat dating wahai wa-jah-wajah yang bukan tampang manusia maupun jin."

Dalam riwayat yang lain, Fathimah berkata, "Aku mendengar Umar berkata pada saat terbar-ing sakit, "Ya Allah, ringankanlah beban mereka melepas kepergianku, walau hanya sesaat." Ke-mudian ketika ajal hendak menjemputnya, aku keluar meninggalkannya dan duduk di tempat yang hanya dibatasi oleh pintu. Kemudian aku mendengarnya berkata, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-Qashash: 83). Sete-lah itu suasana tenang. Aku tak mendengar suara apapun dari dalam kamar. Lalu aku menyuruh Washif, salah seorang pembantu untuk melihatnya di dalam. Sesaat setelah masuk ia berteriak. Ak-upun segera menyusul masuk. Ternyata ia telah meninggal dengan keadaan wajahnya menghadap kiblat dengan menutup kedua matanya dengan salah satu tangannya dan menutup mulutnya den-gan tangan yang satunya."

Sumber : Herfi Ghulam Faizi, Lc

Friday, 29 December 2017

Menjadi pemimpin ummat berarti siap memikul amanah yang telah dipercayakan. Menjadi khalifah berarti siap memimpin rakyat dengan adil. Menjadi pemimpin berarti siap mempertanggungkan amanah kepemimpinan itu di hadapan Allah Swt.

Hal itulah yang dirasakan oleh Umar bin Abdul Aziz ketika urusan rakyat itu dibebankan di atas punggungnya. An-Nadhr bin 'Adiy pernah memberikan gambaran sederhana tentang bagaimana Umar bin Abdul Aziz benar-benar menjiwai posisinya sebagai orang nomor satu ketika itu.

"Suatu ketika aku masuk hendak menemui Umar bin Abdul Aziz. Aku melihatnya sedang duduk dengan menekuk kedua lututnya. Ia letakkan kedua siku tangan di atasnya, dan meletakkan dagu di atas kedua telapak tangannya. Seolah-olah sedang memikul beban berat ummat ini.

Begitulah jiwa pemimpin sejati. Dari gayanya saja sudah mengabarkan kesungguhan kerja dan ketulusan niat. Dan gaya ini tidak bisa dibuat-buat. Mungkin saja pemimpin lain bisa membuat-buat seolah-olah dirinya sedang memikirkan urusan rakyat. Tapi barangkali akan dibaca lain oleh orang yang melihatnya. Bukankah dalam hidup ini ada kaidah, "Sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati pula"?

Apa yang dilakukan pemimpin revolusioner ini pada hari pertama kepemimpinannya?
Selesai mengubur jenazah khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz keluar dari kuburannya. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara ramai di luar makam.
"Suara apa ini?!" tanya Umar bin Abdul Aziz heran.
"Ini adalah suara konvoi pasukan yang akan menjemput khalifah baru, wahai Amirul Mukminin. Mendekatlah untuk menaikinya." jawab salah seorang yang ada di sampingnya saat itu.
"Jauhkan ia dariku! Bawa kesini baghlahku (hasil peranakan (blesteran) antara kuda dengan khimar)"
Didekatkanlah padanya baghlah miliknya dan iapun menaikinya. Lalu datanglah Yasir bin Yadaih, salah seorang pengawal kerajaan, berjalan merunduk dengan membawa belati.
"Kenapa engkau berjalan merunduk kepadaku! Kita semua sama! Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin!"

Iapun berjalan menuju masjid bersama dengan orang-orang yang hari itu ada di sana. Setelah masuk masjid, ia naik ke atas mimbar di hadapan rakyatnya dan berkata :
"Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku telah diuji dengan urusan ini tanpa meminta pendapat dariku sebelumnya, dan akupun tak pernah memintanya, juga tanpa mengajak ummat muslim bermusyawarah di dalamnya. Maka dari itu, aku bebaskan kalian semua dari baiatku. Silahkan kalian memilih (pemimpin) untuk diri kalian!"
Maka semua yang hadir di situ satu suara meneriakkan: "Kami semua memilihmu, wahai Amirul Mukminin!! Kami semua ridha padamu. Pimpinlah kami dengan baik dan berkah!"
Mesjid Umayyah

Ketika suara sudah hening, dan semua orang telah menyatakan keridhaan padanya untuk menjadi khalifah, maka ia mulai khutbahnya dengan memuji Allah Swt dan bershalawat atas Nabi Muhammad Saw, lalu berkata :
"Aku wasiatkan kepada kalian taqwa kepada Allah. Karena taqwa kepada Allah adalah tumpuan segala sesuatu dan tidak ada tumpuan selainnya. Maka beramallah untuk kehidupan akhirat kalian, karena barangsiapa yang beramal untuk akhiratnya niscaya Allah akan mencukupi urusan dunianya. Perbaikilah apapun yang tersembunyi dari niat-niat kalian, karena dengan begitu Allah akan memperbaiki apa-apa yang nampak dari kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, dan perbaikilah persiapan kalian sebelum ajal datang, karena hal itu (kematian) adalah penghancur kenikmatan.  Barangsiapa yang tidak mau.Sesungguhnya ummat ini tidaklah berselisih dalam masalah Tuhannya azza wa jalla, juga tidak berselisih dalam hal Nabinya Saw, juga bukan pada kitabnya, tapi ummat ini berselisih dalam urusan Dinar dan Dirham2. Demi Allah, aku tidak akan memberikan kebathilan kepada seseorang, dan tidak pula melarangnya dari kebenaran. Wahai sekalian manusia!! Barangsiapa yang taat pada Allah maka ia wajib ditaati, dan barangsiapa bermaksiat pada Allah maka tidak ada ketaatan padanya. Taatlah kalian kepadaku selama aku taat pada Allah, dan jika aku bermaksiat pada Allah maka kalian tidak wajib mentaatiku!"

Source : Herfi Ghulam Faizi, Lc